It is a Story about My Love Part II

thing-called-love

Baiklah di part II ini, saya akan melanjutkan kisah cinta saya. Kisah yang terjadi saat saya SMP (Sekolah Menengah Pertama) ini cukup panjang karena banyak sekali kisah cinta yang terjadi. Kisah cinta yang penuh suka dan duka ternyata sudah saya alami sejak usia dini. Well, tanpa perlu berbasa-basi. Lets the story begin.

Cintaku Berlabuh di Lubang Buaya

Setelah dari Ambon, saya kemudian pindah ke Bekasi saat SMP Kelas 1 cawu 2 (dulu istilahnya itu pakai cawu bukan semester). Saya dipindahkan oleh orang tua saya karena mengingat kualitas pendidikan di Ambon belum sebagus di Jakarta. Sejak itulah, saya hidup terpisah dengan orang tua.   Orang tua tetap tinggal di Ambon sedangkan saya tinggal di Bekasi bersama tante saya. Saya kemudian melanjutkan sekolah di SMP 81 Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Dengan R…..

Ceritanya dimulai karena banyaknya wanita yang subhanallah cantik-cantik di SMP ini. Saya pun terlibat dengan geng satu jemputan yang kerjaannya tiap hari membicarakan wanita-wanita yang cantik di SMP tersebut. Saat kelas 1, saya totally off dari jatuh cinta karena sibuk menyesuaikan diri. Namun, mulai kelas 2, benih-benih jatuh cinta mulai timbul lagi. Saya menyukai seorang wanita dari kelas sebelah yang cukup populer di sekolah. Sebut saja namanya R. Setiap sang wanita lewat di depan kelas saya, pasti saya langsung memperhatikannya. Hehe.

Saya kemudian menggunakan strategi yang dulu saya gunakan saat kelas 6 SD yaitu menyampaikan rasa suka saya ke teman baiknya. Saya pun mulai PDKT. Mulailah saya mengenal apa itu yang disebut jalan bareng, telpon-telponan dan istilah nembak. Namun, PDKT saya tidak berhasil. R tidak mau berpacaran dulu. Shock juga ketika itu. Pertama kalinya saya merasakan ditolak wanita. Hiks.

Dengan M…..

Beberapa waktu kemudian teman wanita sekelas saya, sebut saja M, minta dikenalkan dengan teman lelaki yang saya kenal. Ceritanya dia jatuh cinta sama teman saya ini, sebut saja teman saya ini A. Mulailah dia berkomunikasi dengan saya untuk mengetahui lebih banyak tentang si A. Menariknya, karena sering intens berkomunikasi, saya dan M tiba-tiba seperti memiliki perasaan suka yang sama. Awalnya sih saya biasa saja sama si M, tapi temannya M kemudian memberi tahu saya kalau M suka sama saya. Mulai detik itu juga, saya jadi deg2an kalau bicara sama M. Finally, saya menembak M dan akhirnya kami jadian. Yang unik dari hubungan saya dan M adalah saya dan dia sering berkorespondensi (tulis surat) dalam berkomunikasi. Bahkan saat tahun 2010, terakhir saya bertemu lagi dengan dia setelah sekian lama, ternyata dia masih menyimpan surat2 tersebut. Wow. Ketawa sendiri kalau baca surat2 itu. Hehe. Akhirnya saya dan M putus saat mau naik ke kelas 3 karena M hendak pindah ke Bandung ketika itu.

Dengan G…..

Beberapa lama kemudian setelah saya beralih ke kelas 3, akhirnya saya pun jadian dengan adik kelas saya yang masih satu jemputan, sebut saja G. Ini mungkin masa pacaran saya paling lama sama dia. Pacaran standar, pulang bareng dan telpon2an.  Dulu saya kalau menelpon dia, suka +-2 jam sendiri. Sampai di telpon itu, kita bingung mau ngomong apa lagi dan diem lamaaa banget. Hehe. *mahal bayar telepon. Oh ya bersama G ini, saya dan dia pernah kepergok jalan bareng sama mamanya G saat mau mengantar dia pulang ke rumah. Untung ketika itu ga ditegur. Finally, setelah 6 bulanan kita berhubungan then we broke up. Dua hari setelah broke up, eh ada wanita yang telepon yang menyatakan rasa sukanya ke saya. Tahu darimana ya dia saya putus. Ckckck. Kemudian saya jawab saya tidak bisa. Bagaimana mungkin saya yang baru putus dan masih sedih memikirkan untuk jadian lagi. Hiks.

In the end

So, that is the story when I was in junior high school. Yang selalu saya ingat dari pacaran saya adalah saya selalu menjadikan pacaran sebagai motivasi terbesar saya untuk belajar dan itu benar-benar dibuktikan dengan terus masuk rangking di kelas. Saya punya prinsip untuk menjadi yang terbaik untuknya. Saya tidak boleh kalah pintar dari pacar saya. Saya tidak boleh malu-maluin. Terus saya pacaran juga karena saya jauh dari orang tua (kurang perhatian ceritanya :p) maka senang aja kalau dapat perhatian dari orang yang saya suka saat itu.

Pacaran zaman SMP dulu sangat berbeda. Dulu pegangan tangan saat pulang bareng pun tidak pernah. Pegangan tangan saja tidak pernah apalagi yang lebih jauh dari itu. Bagi saya ketika itu, diperhatikan dan memperhatikan orang yang saya suka merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Mungkin beda dengan zaman era informasi sekarang ini. Arus informasi baik dan buruk bisa didapat dengan mudah oleh anak2. Anak2 SMP yang pacaran saat ini bahkan banyak yang sudah melakukan yang dibenci Allah SWT. Miris memang. *Sedih. Tugas orang tua zaman sekarang jauh lebih berat.

Next: Cintaku Karam di SMA